:

Batik Canteng Koneng Jaga Kualitas lewat SDM Pembatik Terampil, Proses Pelatihan Capai Dua Tah

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Menjaga kualitas produk batik tulis tidak hanya bergantung pada motif dan bahan, tetapi juga pada keahlian para pembatik. Hal itulah yang menjadi perhatian utama Batik Canteng Koneng, salah satu batik khas Kabupaten Sumenep, Madura, yang terus berupaya mempertahankan kualitas produksinya melalui penguatan sumber daya manusia (SDM).

 

Owner Batik Canteng Koneng, Didik Hariyanto, melalui pengelolanya, Yudi, mengatakan bahwa mencetak pembatik yang benar-benar terampil bukan perkara mudah. Dibutuhkan proses pembelajaran yang panjang agar setiap pengrajin mampu menghasilkan batik dengan kualitas sesuai standar yang telah dibangun sejak usaha tersebut berdiri pada 2011.

 

"Untuk melatih pengrajin agar benar-benar bisa membatik dengan baik membutuhkan waktu selama satu hingga dua tahun agar bisa mumpuni, karena Batik Canteng Koneng lebih mengutamakan desain yang bagus dan kualitas," ujar Yudi bersama mahasiswa magang Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Sumenep, Selasa (21/7/2026).

 

Ia menjelaskan, kualitas menjadi identitas utama Batik Canteng Koneng. Karena itu, setiap produk dibuat dengan perhatian terhadap detail desain dan hasil akhir, sehingga mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan.

 

Menurut Yudi, strategi tersebut terbukti efektif dalam membangun pemasaran secara alami. Konsumen yang mengenakan Batik Canteng Koneng kerap menarik perhatian orang lain, sehingga memunculkan rekomendasi dari mulut ke mulut atau word of mouth yang selama ini menjadi salah satu kekuatan pemasaran mereka.

 

"Kalau desainnya bagus dan kualitasnya terjaga, biasanya orang akan bertanya di mana membeli batik tersebut. Dari situ promosi berjalan dengan sendirinya," katanya.

 

Di sisi lain, Batik Canteng Koneng mulai memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan produknya. Namun, penggunaan media sosial seperti Instagram dan TikTok masih difokuskan sebagai sarana membangun kesadaran merek (brand awareness), belum diarahkan untuk penjualan dalam skala besar.

 

Yudi mengungkapkan, pihaknya belum mengoptimalkan penjualan melalui marketplace seperti Shopee. Salah satu kendalanya adalah karakteristik produk batik yang bersifat eksklusif, di mana setiap motif memiliki keunikan tersendiri sehingga satu foto umumnya hanya mewakili satu produk.

 

"Kami memang belum memanfaatkan marketplace secara aktif karena harus terus memperbarui stok produk yang unik. Pelanggan dari luar kota seperti Surabaya, Jakarta, dan daerah lainnya yang pernah datang langsung biasanya melakukan pemesanan kembali melalui WhatsApp," jelasnya.

 

Saat ini, Batik Canteng Koneng masih menyasar segmen pasar menengah ke atas dengan fokus memproduksi kemeja batik resmi yang banyak digunakan kalangan pegawai, profesional, hingga pejabat untuk kegiatan rapat maupun bekerja.

 

Produk yang ditawarkan dibanderol mulai Rp600 ribu hingga Rp5 juta per potong, bergantung pada tingkat kerumitan motif, bahan, dan proses pengerjaan. Dengan mempertahankan kualitas melalui SDM yang kompeten, Batik Canteng Koneng optimistis mampu terus menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon batik khas Kabupaten Sumenep.

 

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *